Tag Archives: UEFA

Skandal Mancester City,Dan Larangan Bermain Di Liga Champion

Kabar mengejutkan datang dari sepak bola Eropa. Sang juara bertahan Premier League, Manchester City, dilarang bermain di kompetisi Eropa selama dua musim ke depan. Jelas kabar buruk bagi pasukan Josep Guardiola.

Hukuman ini jelas berat bagi tim sekelas Man City yang sebenarnya sudah lama mengincar trofi paling bergengsi di level klub tersebut. Hukuman larangan bermain selama dua tahun jelas sulit diterima.

The Citizens sudah menyiapkan rencana untuk mengajukan banding, tapi mau tak mau hukuman ini sudah telanjur menimbulkan gejolak di dalam dan di luar lapangan. Para pemain terbaik Man City mulai diliputi keraguan.

Sebenarnya apa sih kesalahan Man City sampai harus dihukum seberat itu? Menukil Goal internasional, baca ulasan berikut ini.

Mengapa Dilarang Bermain di Eropa?

UEFA menjatuhkan hukuman berat ini karena Man City terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap peraturan Financial Fair Play. Selain dihukum selama dua tahun, Man City juga harus membayar denda sebesar 30 juta euro.

Sebelumnya, investigasi yang dilakukan oleh Adjudicatory Chamber of UEFA’s Club Financial Control Body (CFCB) menemukan bahwa Man City bersalah atas pelaporan pendapatan sponsor yang berlebihan pada mulai tahun 2012 sampai 2016.

Singkatnya, Man City telah memalsukan pendapatan sponsor mereka untuk menyeimbangkan neraca keuangan. Penyelidikan ini sebenarnya sudah mulai dilakukan CFCB pada Maret 2019 lalu dan akhirnya menyampai kesimpulan baru-baru ini.

Tentu CFCB tidak tiba-tiba menyelidiki. Awalnya, media asal Jerman, Der Spiegel, menuding Man City telah melakukan pelanggaran berat setelah mendapatkan bocoran dokumen dari Football Leaks.

CFCB menemukan bukti bahwa Man City sengaja menggelembungkan pendapatan sponsor, yang membuat mereka bisa menghabiskan banyak uang di bursa transfer, yang jelas telah menipu UEFA.

Menurut dokumen yang bocor tersebut, pemilik Man City, Sheikh Mansour, telah menggelontorkan 67,5 juta poundsterling untuk meningkatkan pendapatan sponsor tahunan Man City.

Laporan Der Spiegel pun menjelaskan bahwa Man City telah menipu UEFA demi memenuhi syarat sejumlah aturan FFP.

Bagaimana City menanggapi keputusan tersebut ?

Sampai artikel ini mengudara, Goal mengatakan bahwa Man City masih belum berbicara banyak di depan media. Tim biru itu diduga bakal mempertahankan sikap yang sama sampai banding mereka diterima.

Benar, Man City sudah menyatakan bakal mengajukan banding dan membantah tudingan pelanggaran FFP tersebut. Pada pertanyaan pertama, Man City mengatakan bahwa mereka “kecewa tapi tidak terkejut” dengan keputusan UEFA tersebut.

Man City pun menegaskan sikap mereka untuk mengajukan banding secepat mungkin melalui Court of Arbitration for Sport (CAS), serta mengecam proses penyelidikan sepihak UEFA.

Bagaimana Nasib Man City di Premier League?

 

Peraturan UEFA menyatakan bahwa tim yang finis dalam empat besar Premier League bakal otomatis lolos ke Liga Champions musikm berikutnya.

Jika banding Man City ditolak, jatah tiket mereka untuk Liga Champions 2020-21 bakal otomatis diberikan pada tim yang finis di peringkat ke-5 klasemen akhir (dengan asumsi Man City finis di empat besar).

Menurut peraturan Liga Champions UEFA 4.08, jika ada tim yang didiskualifikasi dari kompetisi, spot mereka langsung diberikan pada tim terbaik berikutnya di papan atas.

Bagaimana Jika Man City Juara UCL Musim Ini?

Peraturan UEFA menyatakan bahwa tim mana pun yang menjuarai Liga Champions bakal otomatis lolos ke kompetisi musim berikutnya, terlepas dari laju mereka di kompetisi domestik.

Namun, pada kasus ini, Goal menilai tetap tidak bisa bermain di Liga Champions musim depan, bahkan jika berhasil jadi juara musim ini.

Man City pun tidak akan diizinkan berman di Piala Super Eropa, serta mungkin dilarang di Piala Dunia Antarklub.

Eropa,Raja Pengaturan Skor Dunia

Di balik “yang asyik” dari tayangan bola ternyata ada badai heboh yang didalangi oleh kelompok mafia judi bola eropa pengaturan skor. Beberapa waktu lalu, sebanyak 680 pertandingan bola dalam ajang penyisihan Piala Dunia dan laga Liga Champions dalam kurun antara 2008 dan 2001 terindikasi terkena virus bernama skandal pengaturan skor berskala global.

Adakah memang sepak bola internasional demikian bobrok karena terimbas oleh campur tangan mereka yang ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan nilai fair play yang merupakan jiwa dari setiap laga sepak bola? Tak heran jika Europol Rob Wainwright selaku direktur mengatakan lembaganya sedang mengidentifikasi sekitar 425 orang dari kalangan pejabat, pemain sampai pelaku kriminalitas yang terindikasi melakukan aksi pengaturan skor pertandingan bola. Dana yang terhimpun di sana ditaksir sebanyak 8 juta euro termasuk keuntungan dari hasil suap yang mencapai hampir 2,5 juta dolar Singapura.
Mereka yang terhimpun dalam jaringan mafia itu memanfaatkan jaringan internet atau saluran telpon untuk berhubungan dengan sejumlah bandar yang berkedudukan di Asia. Komentator dari BBC, Phil Parry menyatakan merebaknya pengaturan skor sepak bola ikut menumbuhsuburkan korupsi di beberapa negara. “Saya berpendapat bahwa masyarakat akan sejenak tercengang ketika mereka mengatahui skala dari jaringan itu,” katanya.

Skandal pengaturan skor pertandingan merusak sendi-sendi integritas dalam olah raga, khususnya dalam sepak bola. “Masyarakat mulai menaruh keraguan akan integritas olah raga, mereka tidak akan mempercayai lagi hasil pertandingan,” katanya.

Pengamat bola asal Jerman, Rafael Buschmann menulis dalam majalah Der Spiegel bahwa pengaturan skor pertandingan yang terjadi di Eropa menunjukkan kiprah UEFA dan FIFA boleh jadi mengalami kegagalan, seiring usaha untuk mengungkap dalang beserta antek-anteknya dalam aksi itu.

Pada Februari 2011, dari sebuah dokumen lembaga pengadilan di Finlandia terungkap bahwa seorang warganegara Singapura bernama Wilson Raj Perumal telah bertemu dengan para wasit dan pejabat pertandingan untuk mengatur skor dua laga persahabatan berskala internasional. Menurut dokumen pengadilan itu, ia kemudian menyuap enam wasit agar “mengamankan” hasil laga sesuai kemauan para bandar bola. Ini jelas aksi mafia pengatur skor bola.

Ketua FIFA Sepp Blatter bereaksi dengan berkata, sepak bola global tidak memberi toleransi apa pun dengan segala bentuk manipulasi skor pertandingan. Perlu ditemukan dan dilakukan “sistem pengawasan dini” agar perilaku mafia skor laga tidak merusak sportivitas sepak bola. Perlu juga ditemukan pola-pola sistematis dari aksi judi bola agar aksi mafia pengatur skor tidak menjadi-jadi.

Pejabat penyelidik asal Jerman yang juga menjadi ahli dalam menyelidiki skandal-skandal judi olah raga, Friedhelm Althans menunjuk bahwa segala aturan yang mencegah skandal pengaturan skor tidak berdaya menghadapi aksi mafia judi bola eropa itu.

Dalam sebuah jumpa pers, ia menyatakan, sistem pengawasan dini yang diberlakukan oleh FIFA dan UEFA “masih jauh dari kisah sukses”. Mantan petugas UEFA yang merancang perangkat sistem itu mengatakan sistem pengawasan dini itu berfungsi ketika seseorang tengah melakukan pangaturan skor pertandingan, dan merekam jumlah uang yang relatif besar yang digunakan dalam aksi judi bola.

Sistem itu kedapatan “tidak berfungsi” alias melempem ketika menjejak jumlah uang yang relatif kecil di berbagai aksi taruhan judi bola. “Mereka mengenali rumah-rumah judi bola di Eropa, umumnya perusahaan itu semi-ilegal dan ilegal yang berkedudukan di Asia,” kata mantan petugas di UEFA.

Sejumlah aksi pengaturan skor bola pernah terjadi. Skandal “calciopoli” yang menerjang Juventus menjadi monumen getir bagi sepak bola Italia. AC Milan, Lazio, dan Fiorentina tidak luput dari skandal itu dengan memanfaatkan wasit yang mudah diajak main kongkalikong. Ujung-ujungnya, Juventus dilorot ke Serie B dan dua gelar Serie A pada 2005 dan 2006 dibatalkan. Tiga klub itu perolehan poinnya dipangkas.

Pada 1993, presiden klub Marseille Bernhard Tapie kedapatan menyuap para pemain Valenciennes FC di Liga Prancis. Klub itu kemudian diganjar hukuman dari Ligue 1 dan Tapie dikirim ke hotel prodeo. Di Jerman pada 2005, wasit Robert Hoyzer mengaku telah berhubungan dengan sindikat pengatur skor pertandingan asal Kroasia. Sebanyak 2 juta euro telah diguyur sebagai uang sogok bagi pengaturan skor di divisi dua Jerman, divisi tiga dan Piala Jerman. Hoyzer akhirnya dijebloskan ke penjara.

Di Turki pada 2011, dua orang kedapatan mengatur skor pertandingan dalam pertandingan persahabatan di Turki – Latvia versus Bolovia, dan Latvia versus Bulgaria. Tujuh gol dijaringkan dalam pertandingan itu, dan semuanya dihasilkan dari tendangan penalti. FIFA akhirnya menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi sejumlah pejabat, mereka berasal dari Hungaria dan Bosnia.

Serangkaian drama pengaturan skor oleh ulah para mafia itu jelas-jelas mencoreng jiwa sportivitas sepak bola. Sepak bola sebagai manifestasi dari “homo ludens” menganut salah satu pandangan klasik Yunani bahwa hidup akan terasa panjang apabila dipenuhi dengan perbuatan bermakna (longa est vita si plena est).

Dengan sepak bola, orang dari mana pun dan berasal dari manapun dapat bertemu, berinteraksi bahkan berjualan. Inilah akar masalah munculnya mafia judi bola eropa pengatur skor pertandingan bola. Sama halnya, dengan sepak bola, kini orang dapat menyaksikan tayangan sepak bola dari berbagai liga dunia lewat media elektronik, tanpa mengenal ruang dan waktu. Orang di berbagai belahan dunia manapun dapat menyaksikan kehebatan dari para bintang-bintang bola membela timnya.

Laga demi laga sepak bola dijual untuk dikonsumsi habis-habisan oleh mereka yang telah menjadi budak dari tayangan demi tayangan media. Dalam situasi seperti inilah, mafia judi bola eropa gentayangan bak hantu di taman kayangan bernama sepak bola global.

Nah, dalam lingkup serba konsumtif seperti inilah, aksi mafia judi bola eropa pengaturan skor merebak tumbuh subur di laga bola. Karena sepak bola telah menjadi taruhan olahraga populer, maka pengaturan skor muncul karena di sana bertemu antara pembeli dan penjual dalam ruang besar bernama “shopping mall”.